Jumat, 17 Juni 2016

Tugas Manajemen Layanan Informasi



Bagian 6
 Penigkatan Pelayanan Berkelanjutan

PENGANTAR
Setelah solusi layanan manajemen telah dilaksanakan, adalah penting untuk tidak duduk kembali dan berpikir bahwa pekerjaan telah selesai. Semua aspek lingkungan akan terus berubah, dan penyedia layanan harus selalu terus mencari perbaikan. peningkatan pelayanan berkelanjutan bertanggung jawab untuk memastikan bahwa perbaikan ini diidentifikasi dan diimplementasikan. Kinerja penyedia layanan TI terus diukur dan perbaikan yang dibuat untuk proses, layanan TI dan infrastruktur TI untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas dan efektivitas biaya.
 
MAKSUD DAN TUJUAN
 
Tujuan
Peningkatan Pelayanan berkelanjutan (CSI) bertujuan untuk memberikan nilai bisnis dengan memastikan bahwa pelaksanaan manajemen pelayanan terus memberikan manfaat bisnis yang diinginkan.
tujuan
CSI memiliki tujuan sebagai berikut:
• Untuk meninjau, menganalisis dan membuat rekomendasi di mana perbaikan dapat dilakukan pada setiap titik sepanjang siklus hidup.
• Untuk meninjau dan menganalisis prestasi tingkat layanan terhadap sasaran.
• Untuk mengidentifikasi dan menerapkan kegiatan individu untuk meningkatkan kualitas layanan dan efisiensi dan efektivitas proses manajemen pelayanan.
• Untuk meningkatkan efektivitas biaya memberikan layanan TI tanpa mempengaruhi kepuasan pelanggan.
• Untuk menerapkan metode manajemen berkualitas untuk menunjang kegiatan perbaikan berkesinambungan.
CSI harus menjadi tujuan bagi setiap orang dalam organisasi, tetapi kegiatan perbaikan hanya akan terjadi jika mereka dikelola dengan baik. Seorang pemilik senior yang responsible harus diangkat dan mereka harus memiliki otoritas yang tepat

PRINSIP UTAMA
Pendekatan peningkatan pelayanan berkelanjutan
pendekatan dari peningkatan pelayanan berkelanjutan (lihat Gambar 6.1) dapat diterapkan untuk setiap rencana perbaikan. Pendekatan ini terdiri dari enam langkah:

Gambar

(1) Memperjelas visi, dengan mempertimbangkan  baik bisnis dan visi TI , misi, tujuan dan sasaran, dan memastikan bahwa setiap orang memiliki pemahaman yang sama. Visi yang aspiratif dan mewakili keadaan yang diinginkan.
(2) Menilai situasi saat ini dan membentuk dasar dari mana organisasi saat ini. Hal ini dapat menantang dan dalam hal ini dibutuhkan untuk menjadi jujur, yang mengapa masukan eksternal dapat berguna.
(3) Tentukan langkah menuju visi berdasarkan prioritas untuk perbaikan dan menetapkan target terukur. Hal ini biasanya tidak mungkin untuk melompat dari mana pun Anda saat ini langsung ke kondisi yg diwakili oleh visi.
(4) Dokumen rencana perbaikan, menggunakan layanan dan perbaikan proses teknik.
(5) Memantau prestasi, membuat penggunaan langkah-langkah dan metrik yang tepat seperti yang didefinisikan sebelumnya.
(6) Menjaga momentum dengan memastikan bahwa perbaikan tertanam dan mencari peluang perbaikan lebih lanjut.

Menyampaikan perbaikan

ITIL merekomendasikan bahwa suatu daftar CSI adalah dijaga untuk mencatat peluang perbaikan dan mengelompokkannya menjadi kecil, menengah dan besar. Waktu  yang diharapkan untuk menerapkan setiap peluang bersama-sama dengan keuntungan yang diharapkan dan terukur juga harus terindikasi. Bersama-sama, informasi ini memperbolehkan prioritas dari sistem manajemen peluang perbaikan. Catatan CSI yang harus dijaga sebagai bagian dari sistem manajemen pengetahuan layanan.  Catatan CSI  adalah tanggung jawab dan dipertanggung  jawabkan oleh manajer CSI.
Kunci untuk perbaikan sukses adalah pengukuran. CSI pendukung penggunaan indusri pendekatan seperti model '-Do-Check-Act Rencana' Deming (lihat Bab 34) dan proses yang dikenal sebagai 'proses perbaikan tujuh langkah' (lihat Bab 32).



KESEMPURNAAN DENGAN PERBAIKAN PROSES BERKELANJUTAN
                       (countinous process improvement )
   
Keputusan-keputusan strategik akan diambil oleh pimpinan puncak berdasarkan suatu analisa strategis yang bertolak dari kesadaran, kecerdasan dan akal untuk mengubah keadaan sesuai dengan perubahan faktor eksternal dan internal.Untuk menggerakkan perubahan itu, maka kepemimpinan harus memiliki keterampilan yang berkaitan dengan hal-hal mengintreprestasikan hasil analisa kedalam tingkat-tingkat interpensi dalam melaksanakan arah perubahan dimasa depan.
Organisasi yang berdasarkan Kualitas sebaiknya berusaha untuk mencapai kesempurnaan dengan perbaikan proses berkelanjutan  (countinous process improvement ) pada bisnis dan proses produksi. Tentu saja kesempurnaan itu tidak mungkin karena perjalanan itu tidak pernah berhenti.Perbaikan terus menerus berarti tidak cepat puas dengan melakukan pekerjaan yang bagus atau proses tetepi juga berusaha untuk perbaikan tugas atau proses. Hal ini sesuai dengan pengukuran berkesinambungan  dan tim pemecahan masalah dalam aktifitas kerja. Perbaikan berkelanjutan dapat dilakukan dengan  pendekatan Quality Assurance (QA), dimana system yang menjadi penentu apakah suatu produk lulus atau tidak, lewat audit / sampling. Temuan yg ada akan ditindaklanjuti dan dimonitor kembali supaya kesalahan sebelumnya jangan terulang lagi. Seperti :
1. Untuk Mengetahui Definisi Proses Perbaikan Mutu Berkelanjutan
2  Untuk Mengetahui Prinsip Proses Perbaikan Mutu Berkelanjutan
3. Untuk Mengetahui Dasar Proses Perbaikan Mutu Berkelanjutan
4. Untuk Mengetahui Cara dan Strategi  Proses Perbaikan Mutu Berkelanjutan
5. Untuk Mengetahui pendekatan QA dan Tujuan QA 

DEFINISI PROSES PERBAIKAN MUTU BERKELANJUTAN

Ø Perbaikan (improvement) adalah sebuah kegiatan yang dilakukan untuk tujuan strategis sepertipengurangan waktu siklus, pengurangan biaya, dan peningkatan kepuasan pelanggan. Hal ini termasuk perbaikan langsung dalam kegiatan misi (produksi, desain, pengujian dll).
Ø  Perbaikan mutu berkelanjutan (continuous quality improvement) adalah sebuah siklus proses terstruktur untuk memperbaiki sistem dan proses kerja dalam suatu organisasi atau kegiatan. 
Siklus ini mencakup identifikasi area yang berpeluang untuk perbaikan, mendefinisikan masalah dalam 
area tersebut, menguraikan urutan kegiatan (proses) yang terjadi di area tersebut, menetapkan hasil 
yang diinginkan dari proses dan persyaratan yang dibutuhkan untuk mencapainya, memilih langkah-
langkah spesifik dalam proses belajar, mengumpulkan dan menganalisis data tentang proses, 
dan tindakan perbaikan, dan pemantauan hasil tindakan tersebut.
Perbaikan mutu berkelanjutan didasarkan pada pendekatan tim dan membutuhkan tim pengembangan 
yang terdiri dari staf dari bidang fungsional dan tingkatan yang berbeda dalam organisasi. Metode ini 
mengasumsikan bahwa sistem apapun selalu dapat ditingkatkan dan karenanya menekankan proses 
perbaikan yang terus-menerus, yang membutuhkan komitmen jangka panjang organisasi dan kerjasama 
tim yang efektif.

2.2  PRINSIP PROSES PERBAIKAN BERKELANJUTAN
Keberhasilan memperbaiki dari satu posisi dan mempertahan posisi daur hidup yang prima, memerlukan 7 prinsip untuk mengembangkan proses perbaikan yang berkelanjutan seperti dibawah ini :
1.     Usaha peningkatan yang berkelanjutan adalah menjadi tugas dan kewajiban semua orang yang mencakup komunikasi, mengurangi kesalahan, pengurangan biaya, kepuasan pelanggan keluar dan kedalam, produktivitas (efesiensi, efektip, kualitas).
2.        Perbaikan terus menerus merupakan kebutuhan yang sejalan dengan tindakan proaktif dan antisipasi.
3.        Pelaku pembaharuan harus memiliki perhatian untuk setiap proses dan setelah pelaksanaan sampai pada tingkat terbawah.
4.    Setiap langkah dalam pelaksanaan haruslah dalam kerangka kerja yang sistimatis untuk mendapatkan hasil yang berkwalitas.
5.    Membangun terciptanya informasi terbuka dengan adanya keinginan saling menukar dan membagikan informasi secara terus menerus berlandaskan nilai dan kapabilitas melalui adanya methoda mengantisipasi masalah, data sebagai peluang untuk peningkatan, meneruskan solusi dan ide-ide, adanya semangat dan imbalan yang diberikan.
6.      Adanya pemahaman untuk tidak memaksakan suatu solusi dan mendengarkan pendapat orang lain dalam usaha mewujudkan kualitas melalui kebersamaan dalam tim, dorongan untuk memfokuskan diatas masalah mereka, menggerakkan semangat dalam menyampaikan ide-ide.
7.   Peningkatan didasarkan kepedulian individu, bukan organisasi sehingga mereka dapat berkontribusi dalam ide-ide.

2.    DASAR PROSES PERBAIKAN BERKELANJUTAN
Ada lima jalan dasar untuk perbaikan:
1.      Mengurangi resources ( Sumber daya)
2.      Mengurangi kesalahan
3.      Mencapai atau melebihi keinginan konsumen
4.      Jadikan proses aman
5.      Jadikan proses lebih memuaskan bagi yang melakukanya.

STRATEGI PROSES PERBAIKAN BERKELANJUTAN 
Ada empat strategi perbaikan utama; memperbaiki, penyempurnaan, pembaharuan, dan reengineering.  Hal ini juga berarti benar bahwa penggabungan yang tepat dari strategi akan menghasilkan perbaikan yang tidak pernah berakhir. 
2.5 CAR    MELAKUKAN PERBAIKAN BERKELANJUTAN
1)  Melihat semua kerja sebagai sebuah proses. Jadikan semua proses efeksif, efisien dan mudah disesuaikan.Proses adalah interaksi beberapa kombinasi dari manusia, material, peralatan, metoda, pengukuran, dan lingkungan, untuk memproduksi keluaran sepreti produk, jasa, atau input dari proses yang lain. Dengan harapan untuk mendapatkan masukan dan keluaran yang terukur, suatu proses harus memiliki aktivitas nilai tambah dan bisa diulang. Proses juga harus efektif, efisien, mudah dikontrol, dan mudah beradaptasi. Proses mengacu kepada aktivitas bisnis dan produksi  dari suatu organisasi. Bisnis proses seperti purchasing, engineering, accounting, dan marketing adalah area yang memunkinkan untuk dilakukan perbaikan terus menerus. 
2)Antisipasi perubahan keinginan pelanggan.
3)Pengontrolan performa proses dan pengukuran seperti penurunan scrap dsb.
4) Memperbaiki ketidakpuasan pelanggan dengan level performa saat ini.
5) Mengurangi pemborosan dan mengolah kembali jika memungkinkan.
6) Hilafitas yang tidak memberikan nilai tambah ke produk atau jasa
7)Hapus ketidaksesuaian dalam semua tingkatan
8)Gunakan perbandingan untuk meningkatkan keunggulan persaingan.
9) Berinovasi untuk memperoleh terobosan mencapai
10)Gunakan peralatan teknik seperti : SPC, DOE, Bench Marking, QFD dsb.



PENDEKATAN QA ( Quality Assurance ) 

PENGERTIAN


Pelayanan Kesehatan (Quality Assurance in Health Care )
mutu (quality assurance / QA) sering diartikan asuransi.
v  Dr. Heather Palmer (1983) dari universitas Harvard
QA adalah “suatu proses pengukuran mutu, menganalisa kekurangan yangditemukan dan membuat kegiatan untuk meningkatkan penampilan yang diikuti dengan pengukuran muku kembali untuk menentukan apakah peningkatan telah dicapai”.Ia adalah suatu kegiatan yang sistematik, suatu siklus kegiatan yang mempergunakan standart pengukuran.
v  joint commission on accreditation of hospital (JCAH) badan yang menyelengarakan akreditasi di amerika
“QA adalah suatu program berlanjutyang disusun secara objektif dan sistematik, memantau dan menilai mutu dankewajaran asuhan (perawatan) terhadap pasien, menggunakan kesempatanuntuk meningkatkan asuhan pasien dan memecahkan masalah yangterungkap”.
v  ISO 8402
QA adalah “semua kegiatan sistematik dandirencanakan yang diperlukan untuk memberikan kepercayaan yang memadaisehingga produk dan pelayanannya memuaskan sesuai dengan syarat – syarat kualitas”
v  ANSI/ASQS (1978)
QA adalah “semua kegiatan yang direncanakanyang diperlukan untuk memberikan kepercayaan yang memadai sehingga produk atau pelayanannya memuaskan sesuai dengan kebutuhan”.
v  JIZ 8101
QA adalah : “kegiatan yang direncanakan yang diperlukan untuk memberikan kepercayaan yang memadai sehingga produk ataupelayanannya memuaskan sesuai dengan kebutuhan”.
v  Dr. K. Ishikawa mengatakan,
 “QA dimaksudkan untuk menjamin mutudimana konsumen dapat membeli dan menggunakan dengan kepercayaan dankepuasan dan masih dapat digunakan untuk jangka panjang”.
v  Drs. Rueles dan Frenk dari mexico
QA adalah “suatup roses sistematik untuk menutup gap antara kinera yang ada dan outcomeyang diharapkan”.
v  Lori Di Prete Brown,
Quality Assurance adalah suatu susunan kegiatan – kegiatan yang dilaksanakan untuk menyusun standar – standar dan untuk memonitor dan menigkatkan kinerja sehingga pelayanan yang diselengarakan sedapat mungkin adalah efektif dan selamat”.
v  Dr. Donalt Berwick, ahli CQI dari US,
pendekatan QA adalah “suatu pendekatan pengorganisasian secara terintegrasi untuk mempertemukan kebutuhan pasien dan harapan pasien dengan manajemenserta staf pada waktu proses peningkatan dan pelayanan dengan mengunakanteknik kuantitatif dan piranti analitis”
Dari beberapa pengertian diatas bisa kita simpulkan bahwa “ pendekatan QA (Quality Assurance) adalah semua penataan – penataan dan kegiatan – kegiatan yang dimaksud untuk menjaga keselamatan, memelihara dan meningkatkan mutu pelayanan”.

2. TUJUAN QA
QA  mempunyai tujuan untuk :
1.Menjaga mutu proses pelayanan kesehatan, agar sesuai dengan standaroperatif prosedur pelayanan kesehatan, meningkatkan kepatuhan petugas agardalam melakukan pelayanan senantiasa berpegang pada standar pelayananyang seharusnya
2.Menjaga agar pelayanan kesehatan mutunya tetap terjamin sesuai denganharapan dan memberikan kepuasan kepada pelanggan atau pasien.
3. Melihat kekurangan yang ada dalam proses pelayanan dan berusahamemperbaiki.
4. Meningkatkan mutu struktur, proses dan outcome.
5.The American Hospital Association mengemukakan bahwa tujuan QA adalah“upaya untuk identifikasi dan memecahkan masalah dalam pemberian pelayanan  kepada  pasien dan mencari atau memanfaatkan peluang yang ada untuk meningkatkan mutu pelayanan secara terpadu”

Kamis, 14 Januari 2016

BISNIS

Seperti halnya berjualan secara offline, promosi adalah hal penting untuk mengenalkan toko dan produk yang dijual dengan tujuan unutk menarik pembeli. Dengan promosi yang tepat, Anda dapat dengan lebih mudah menjual produk untuk meraup keuntungan. Tetapi, maraknya situs web yang menjual produk sejenis dengan produk yang Anda jual menjadi tantangan tersendiri agar toko Anda lebih dikenal. Promosi toko online wajib Anda lakukan. Bagaimana cara mempromosikan toko online Anda dengan efektif?
Seiring perkembangan jaman, toko online semakin diminati dan dipercaya sebagai tempat untuk membeli sesuatu. Di daerah perkotaan yang umumnya memiliki warga yang sibuk, proses jual beli dapat dilakukan tanpa harus bertemu muka secara langsung atau yang dikenal dengan transaksi online. Agar toko online ramai dikunjungi, Anda dapat melakukan promosi menggunakan beberapa cara berikut ini.

·         Gunakan nama domain yang mudah diingat
Jika seseorang telah mengunjungi atau membeli produk pada toko online Anda, maka ada kemungkinan pembeli tersebut akan kembali mengunjungi toko online Anda. Untuk memudahkan pembeli menemukan toko online Anda, buatlah nama yang mudah diingat. Menggunakan nama domain yang pendek atau berkesan merupakan salah satu cara agar nama toko online Anda mudah diingat.

·         Mudah ditemukan dengan Google
Sebagian besar dari kita, pasti menggunakan Google ketika akan mencari informasi tertentu. Google memang telah menjadi media seseorang mencari sesuatu atau ketika akan berselancar di Internet, termasuk ketika akan membeli produk tertentu. Maka, usahakan agar website Anda berada di halaman-halaman awal Google. Salah satu cara adalah dengan menggunakan teknik SEO (Search Engine Optimation) agar mudah dikenali Google. Berada di urutan atas Google menjadi penting karena biasanya pencari informasi tidak melihat sampai halaman-halaman terakhir dari hasil pencarian Google. Biasanya hanya halaman pertama sampai halaman ketiga yang dilihat.

·         Promosi melalui jejaring sosial
Jejaring sosial seperti Facebook atau Twitter telah menjadi salah satu website yang paling banyak dikunjungi pengguna internet. Anda dapat memanfaatkan situs ini untuk memperkenalkan toko online. Misalnya dengan memasang foto produk Anda dan men-tag foto tersebut kepada teman-teman Anda. Mengingat banyaknya yang suka berselancar di jejaring sosial, maka memasang foto dan penjelasan lain tentang produk juga membantu seseorang yang tidak Anda kenal melihat foto produk Anda ketika dia sedang menjelajah jejaring sosial.

·         Iklan online
Mengenalkan produk Anda secara online dapat dilakukan dengan memasang iklan toko online di beberapa situs web yang sudah dikenal, Hanya saja, memasang iklan pada website yang sudah dikenal, Anda perlu membayar. Sedangkan, jika ingin mencoba iklan online tanpa bayar, Anda dapat memasang iklan baris gratis atau bisa juga mengenalkan produk atau alamat toko online pada beberapa forum jual beli seperti Kaskus atau melalui mailing list.

·         Promosi offline

Selain dengan cara online, beriklan dapat juga dilakukan secara offline. Misalnya dengan beriklan di surat kabar, membuat stiker, membagikan voucher, menjadi sponsor saat pertemuan komunitas tertentu atau saat acara-acara tertentu. Yang paling mudah adalah memperkenalkan kepada teman-teman Anda secara lisan atau melalui email.

PENGAMBILAN KEPUTUSAN DAN KEPEMIMPINAN

  1. Definisi Pengambilan Keputusan.
Pengambilan keputusan dapat dianggap sebagai suatu hasil atau keluaran dari proses mental atau kognitif yang membawa pada pemilihan suatu jalur tindakan di antara beberapa alternatif yang tersedia. Setiap proses pengambilan keputusan selalu menghasilkan satu pilihan final. Keluarannya bisa berupa suatu tindakan (aksi) atau suatu opini terhadap pilihan. Ada beberapa pengertian atau definisi Pengambilan Keputusan Menurut Para Ahli :
  1. Menurut George R. Terry
    Pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada.
  2. Menurut Sondang P. Siagian
    Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling cepat.
  3. Menurut James A. F. Stoner
    Pengambilan keputusan adalah proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan itu adalah suatu cara yang digunakan untuk memberikan suatu pendapat yang dapat menyelesaikan suatu masalah dengan cara / teknik tertentu agar dapat lebih diterima oleh semua pihak.
  1. Dasar Pengambilan Keputusan.
Menurut George R.Terry dan Brinckloe disebutkan dasar-dasar pendekatan dari pengambilan keputusan yang dapat digunakan yaitu :
  1. Intuisi : Pengambilan keputusan yang didasarkan atas intuisi atau perasaan memiliki sifat subjektif sehingga mudah terkena pengaruh. Pengambilan keputusan berdasarkan intuisi ini mengandung beberapa keuntungan dan kelemahan.
  2. Pengalaman : Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis, karena pengalaman seseorang dapat memperkirakan keadaan sesuatu, dapat diperhitungkan untung ruginya terhadap keputusan yang akan dihasilkan. Orang yang memiliki banyak pengalaman tentu akan lebih matang dalam membuat keputusan akan tetapi, peristiwa yang lampau tidak sama dengan peristiwa yang terjadi kini.
  3. Fakta : Pengambilan keputusan berdasarkan fakta dapat memberikan keputusan yang sehat, solid dan baik. Dengan fakta, maka tingkat kepercayaan terhadap pengambilan keputusan dapat lebih tinggi, sehingga orang dapat menerima keputusan-keputusan yang dibuat itu dengan rela dan lapang dada.
  4. Wewenang : Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya atau orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih rendah kedudukannya. Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang ini juga memiliki kelebihan dan kekurangan.
  5. Logika/Rasional : Pengambilan keputusan yang berdasarkan logika ialah suatu studi yang rasional terhadap semuan unsur pada setiap sisi dalam proses pengambilan keputusan. Pada pengambilan keputusan yang berdasarkan rasional, keputusan yang dihasilkan bersifat objektif, logis, lebih transparan, konsisten untuk memaksimumkan hasil atau nilai dalam batas kendala tertentu, sehingga dapat dikatakan mendekati kebenaran atau sesuai dengan apa yang diinginkan. Pada pengambilan keputusan secara logika terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
    – Kejelasan masalah.
    – Orientasi tujuan : kesatuan pengertian tujuan yang ingin dicapai.
    – Pengetahuan alternatif : seluruh alternatif diketahui jenisnya dan konsekuensinya.
    – Preferensi yang jelas : alternatif bisa diurutkan sesuai criteria.
    – Hasil maksimal : pemilihan alternatif terbaik didasarkan atas hasil ekonomis yang maksimal
     
  1. Jenis-Jenis Keputusan.
Jenis keputusan dalam sebuah organisasi dapat digolongkan berdasarkan banyaknya waktu yang diperlukan untuk mengambil keputusan tersebut, bagian mana organisasi harus dapat melibatkan dalam mengambil keputusan dan pada bagian organisasi mana keputusan tersebut difokuskan.
Secara garis besar jenis keputusan terbagi menjadi dua bagian yaitu :
  1. Keputusan Rutin : Keputusan Rutin adalah Keputusan yang sifatnya rutin dan berulang-ulang serta biasanya telah dikembangkan untuk mengendalikannya.
  2. Keputusan tidak Rutin : Keputusan tidak Rutin adalah Keputusan yang diambil pada saat-saat khusus dan tidak bersifat rutin.
     
  1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi dalam Pengambilan Keputusan.
Ada 6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi dalam Pengambilan Keputusan :
  1. Fisik : Didasarkan pada rasa yang dialami pada tubuh, seperti rasa tidak nyaman, atau kenikmatan. Ada kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan rasa tidak senang, sebaliknya memilih tingkah laku yang memberikan kesenangan.
  2. Emosional : Didasarkan pada perasaan atau sikap. Orang akan bereaksi pada suatu situasi secara subjective.
  3. Rasional: Didasarkan pada pengetahuan orang-orang mendapatkan informasi, memahami situasi dan berbagai konsekuensinya.
  4. Praktikal : Didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakan. Seseorang akan menilai potensi diri dan kepercayaan dirinya melalui kemampuanya dalam bertindak.
  5. Interpersonal : Didasarkan pada pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu orang keorang lainnya dapat mempengaruhi tindakan individual.
  6. Struktural : Didasarkan pada lingkup sosial, ekonomi dan politik. Lingkungan mungkin memberikan hasil yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah laku tertentu.
Selanjutnya, John D.Miller dalam Imam Murtono (2009) menjelaskan faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan adalah: jenis kelamin pria atau wanita, peranan pengambilan keputusan, dan keterbatasan kemampuan.
 
KEPEMIMPINAN
  1. TEORI DAN ARTI PENTING KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepadapengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Cara alamiah mempelajari kepemimpinan adalah “melakukanya dalam kerja” dengan praktik seperti pemagangan pada seorang senima ahli, pengrajin, atau praktisi. Dalam hubungan ini sang ahli diharapkan sebagai bagian dari peranya memberikan pengajaran/instruksi.
Teori kepemimpinan pada umumnya berusaha untuk memberikan penjelasan dan interpretasi mengenai pemimpin dan kepemimpinan dengan mengemukakan beberapa segi antara lain : Latar belakang sejarah pemimpin dan kepemimpinan Kepemimpinan muncul sejalan dengan peradaban manusia. Pemimpin dan kepemimpinan selalu diperlukan dalam setiap masa. Sebab-sebab munculnya pemimpin Ada beberapa sebab seseorang menjadi pemimpin, antara lain :
  • Seseorang ditakdirkan lahir untuk menjadi pemimpin. Seseorang menjadi pemimpin melalui usaha penyiapan dan pendidikan serta didorong oleh kemauan sendiri.
  • Seseorang menjadi pemimpin bila sejak lahir ia memiliki bakat kepemimpinan kemudian dikembangkan melalui pendidikan dan pengalaman serta sesuai dengan tuntutan lingkungan.
  • Untuk mengenai persyaratan kepemimpinan selalu dikaitkan dengan kekuasaan, kewibawaan, lingkungan dan kemampuan.
     
  1. Teori-teori dalam Kepemimpinan
    1. Teori Sifat : Teori ini bertolak dari dasar pemikiran bahwa keberhasilan seorang pemimpin ditentukan oleh sifat-sifat, perangai atau ciri-ciri yang dimiliki pemimpin itu. Atas dasar pemikiran tersebut timbul anggapan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang berhasil, sangat ditentukan oleh kemampuan pribadi pemimpin. Dan kemampuan pribadi yang dimaksud adalah kualitas seseorang dengan berbagai sifat, perangai atau ciri-ciri di dalamnya.Ciri-ciri ideal yang perlu dimiliki pemimpin menurut Sondang P Siagian (1994:75-76) adalah: – pengetahuan umum yang luas, daya ingat yang kuat, rasionalitas, obyektivitas, pragmatisme, fleksibilitas, adaptabilitas, orientasi masa depan; – sifat inkuisitif, rasa tepat waktu, rasa kohesi yang tinggi, naluri relevansi, keteladanan, ketegasan, keberanian, sikap yang antisipatif, kesediaan menjadi pendengar yang baik, kapasitas integratif; – kemampuan untuk bertumbuh dan berkembang, analitik, menentukan skala prioritas, membedakan yang urgen dan yang penting, keterampilan mendidik, dan berkomunikasi secara efektif. Walaupun teori sifat memiliki berbagai kelemahan (antara lain : terlalu bersifat deskriptif, tidak selalu ada relevansi antara sifat yang dianggap unggul dengan efektivitas kepemimpinan) dan dianggap sebagai teori yang sudah kuno, namun apabila kita renungkan nilai-nilai moral dan akhlak yang terkandung didalamnya mengenai berbagai rumusan sifat, ciri atau perangai pemimpin; justru sangat diperlukan oleh kepemimpinan yang menerapkan prinsip keteladanan.
    2. Teori Perilaku : Dasar pemikiran teori ini adalah kepemimpinan merupakan perilaku seorang individu ketika melakukan kegiatan pengarahan suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan. Dalam hal ini, pemimpin mempunyai deskripsi perilaku:
  • Perilaku seorang pemimpin yang cenderung mementingkan bawahan memiliki ciri ramah tamah,mau berkonsultasi, mendukung, membela, mendengarkan, menerima usul dan memikirkan kesejahteraan bawahan serta memperlakukannya setingkat dirinya. Di samping itu terdapat pula kecenderungan perilaku pemimpin yang lebih mementingkan tugas organisasi.
  • Berorientasi kepada bawahan dan produksi perilaku pemimpin yang berorientasi kepada bawahan ditandai oleh penekanan pada hubungan atasan-bawahan, perhatian pribadi pemimpin pada pemuasan kebutuhan bawahan serta menerima perbedaan kepribadian, kemampuan dan perilaku bawahan. Sedangkan perilaku pemimpin yang berorientasi pada produksi memiliki kecenderungan penekanan pada segi teknis pekerjaan, pengutamaan penyelenggaraan dan penyelesaian tugas serta pencapaian tujuan. Pada sisi lain, perilaku pemimpin menurut model leadership continuum pada dasarnya ada dua yaitu berorientasi kepada pemimpin dan bawahan. Sedangkan berdasarkan model grafik kepemimpinan, perilaku setiap pemimpin dapat diukur melalui dua dimensi yaitu perhatiannya terhadap hasil/tugas dan terhadap bawahan/hubungan kerja. Kecenderungan perilaku pemimpin pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari masalah fungsi dan gaya kepemimpinan (JAF.Stoner, 1978:442-443)
  1. Teori Situasional : Keberhasilan seorang pemimpin menurut teori situasional ditentukan oleh ciri kepemimpinan dengan perilaku tertentu yang disesuaikan dengan tuntutan situasi kepemimpinan dan situasi organisasional yang dihadapi dengan memperhitungkan faktor waktu dan ruang. Faktor situasional yang berpengaruh terhadap gaya kepemimpinan tertentu menurut Sondang P. Siagian (1994:129) adalah :
  • Jenis pekerjaan dan kompleksitas tugas
  • Bentuk dan sifat teknologi yang digunakan
  • Persepsi, sikap dan gaya kepemimpinan
  • Norma yang dianut kelompok
  • Rentang kendali
  • Ancaman dari luar organisasi
  • Tingkat stress
  • Iklim yang terdapat dalam organisasi
     
     
    SUMBER : https://erikandfiki.wordpress.com/2014/04/30/pengambilan-keputusan-dan-kepemimpinan/

CONTOH STRUKTUR ORGANISASI



ANALISIS TIPE STRUKUTUR

Contoh diatas adalah Tipe Horizontal
 
Bagan Ini Digambarkan Secara Mendatar. Bagan organisasi bentuk horizontal atau mendatar adalah bentuk bagan organisasi yang saluran wewenangnya dari pucuk atau ujung  pimpinan tertinggi sampai dengan satuan organisasi atau pejabat yang terendah disusun dari kiri kearah kanan atau sebaliknya.

 sumber : https://www.google.com/search?q=CONTOH+STRUKTUR+ORGANISASI&tbm=isch&tbo=u&source=univ&sa=X&ved=0ahUKEwja-ca8zanKAhXi_XIKHepuDU8QsAQIGw&biw=1280&bih=699#imgrc=v20NC5R8_xTYDM%3A
http://v-ixio.blogspot.co.id/2013/10/bentuk-bentuk-bagan-struktur-organisasi_3.html

DESAIN DAN STRUKTUR ORGANISASI

1.Dimensi struktur organisasi
 
Kompleksitas

Kompleksitas merujuk pada tingkat diferensiasi yang ada di dalam sebuah organisasi. Diferensiasi horisontal mempertimbangkan tingkat pemisahan horisontal di antara unit-unit. Diferensiasi vertikal merujuk pada kedalaman hierarki organisasi. Diferensiasi spasial meliputi tingkat sejauh mana lokasi fasilitas dan para pegawai organisasi tersebar secara geografis. Peningkatan pada masalah satu dari ketiga faktor tersebut akan meningkatkan kompleksitas sebuah organisasi.

Diferensiasi horisontal

Diferensiasi horisontal merujuk pada tingkat diferensiasi antara unit-unit berdasarkan orientasi para anggotanya, sifat dari tugas yang meeka laksanakan, dan tingkat pendidikan serta pelatihannya.

 Diferensiasi vertikal
Diferensiasi vertikal merujuk pada kedalaman struktur. Diferensiasi meningkat, demikian pula kompleksitasnya karena jumlah tingkatan hierarki di dalam organisasi bertambah. Makin banyak tingkatan yang terdapat di antara top management dan tingkat yang paling rendah, maka makin besar pula potensi terjadinya distorsi dalam komunikasi, dan makin sulit mengkoordinasi pengambilan keputusan dari pegawai manajerial, serta makin sukar bagi top management untuk mengawasi kegiatan bawahannya.

Diferensiasi spasial
Diferensiasi spasial merujuk pada tingkat sejauh mana lokasi dari kantor, pabrik, dan personalia sebagai sebuah organisasi tersebar secara geografis. Diferensiasi spasial dapat dilihat sebagai perluasan dari dimensi dan dan diferensiasi horizontal dan vertikal. Artinya, adalah mungkin untuk memisahkan tugas dan pusat kekuasaan secara geografis. Pemisahan ini mencakup penyebaran jumlah maupun jarak.

Formalisasi
Formalisasi merujuk pada tingkat sejauh mana pekerjaan di dalam organisasi itu distandardisasikan. Jika formalisasi rendah, perilaku para pegawai relatif tidak terprogram. Karena kebijakan dari seseorang di dalam pekerjaannya berbanding terbalik dengan jumlah perilaku yang diprogramkan lebih dahulu oleh organisasi, maka makin besar standardisasi, makin sedikit pula jumlah masukan mengenai bagaiman suatu pekerjaan harus dilakukan oleh seorang pegawai. Standardisasi bukan hanya menghilangkan kemungkinan para pegawai untuk berperilaku secar lain, tetapi juag menghilangkan kebutuhan bagi para pegawai untuk mempertimbangkan aternatif.

Sentralisasi
Sentralisasi adalah yang paling problematis dari ketiga komponen. Sentralisasi dinyatakan sebagai sejauh mana kekuasaan formal dapat membuat kebijaksanaan-kebijaksanaan dikonsentrasikan pada satu individu, sebuah unit, atau suatu tingkat (biasanya pada tingkat tinggi dalam organisasi), dengan demikian pegawai (biasanya berada di bagian bawah organisasi) hanya memperoleh masukan yang minim dalam pekerjaan mereka. Istilah sentralisasi merujuk kepada tingkat dimana pengambilan keputusan dikonsentrasikan pada suatu titik tunggal di dalam organisasi. Konsentrasi yang tinggi menyatakan adanya spesialisasi yang tinggi, sedangkan konsentrasi yang rendah menunjukkan adanya desentralisasi. Tingkat kontrol yang dimiliki seseorang dalam seluruh proses pengambilan keputusan dapat digunakan sebagai sebuah ukuran mengenai sentralisasi. Kelima langkah dalam proses pengambilan keputusan adalah sebagai berikut: mengumpulkan informasi untuk diteruskan kepada pengambil keputusan mengenai apa yang dapat dilakukan; memproses dan menginterpretasikan informasi tersebut untuk memberi saran kepada pembuat keputusan mengenai apa yang harus dilakukan; membuat pilihan mengenai apa yang hendak dilakukan; memberi wewenang kepada orang lain mengenai apa yang hendak dilakukan.

2.Departementalisasi

  Depertementasi atau departementalisasi bersangkutan dengan proses penentuan cara pengelompokan kegiatan-kegiatan organisasi. Departementasi mencerminkan organsasi horizontal pada setiap tingkatan hirarki, dan hubungan erat dengan prinsip spesialisasi klasik.

a) Departemntasi Fungsional. Departementasi fungsional dapat dijumpai di setiap tipe organisasi. fungsi-fungsi utama biasanya adalah produksi, pemasaran dan keuangan, fungsi-fungsi vital yang memungkinkan perusahaan beroprasi dan menjaga kelangsungan hudupnya.

b) Departemantasi Produk. Departemantasi produk merupakan pengelompokan kegiatan-kegiatan atas dasar perbedaan barang-barang dan atau jasa-jasa menurut perbedaan-perbedaan cara produksi atau pemrosesan dan atau pemakaian akhir.

c) Departemtasi Wilayah. Bila organisasi beropraso di wilayah-wilayah yang tersebar, maka departemtasi atas dasar wilayah akan diperlukan. Tipe departemantasi wilayah ini sering juga disebut departemtasi lokasi, daerah, regional atupun geografis.

3.Model Desain Organisasi

Model desain organisasi atau struktur organisasi adalah mekanisme-mekanisme formal pengelolaan suatu organisasi yang menunjukkan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap hubungan-hubungan di antara fungsi-fungsi, bagian-bagian atau posisi-posisi maupun orang-orang yang menunjukkan kedudukan, tugas wewenang dan tanggung jawab yang berbeda-beda dalam suatu organisasi. Disain mengandung unsur-unsur spesialisasi kerja, standardisasi, koordinasi, sentralisasi, desentralisasi dalam pembuatan keputu­san dan besaran satuan kerja.
Pada penerapannya, model desain orgranisasi terdiri dari 2 model, yaitu Desain organisasi Mekanistik dan Desain organisasi orgranik.

1. Desain Organisasi Mekanistik.
Ø  Proses kepemimpinan tidak mencakup persepsi tentang keyakinan dan kepercayaan.
Ø  Proses motivasi hanya menyadap motif fisik, rasa, aman, dan ekonomik melalui perasaan takut dan sanksi.
Ø  Proses komunikasi berlangsung sedemikian rupa sehingga informasi mengalir ke bawah dan cenderung terganggu tidak akurat.
Ø  Proses interaksi bersifat tertutup dan terbatas, hanya sedikit pengaruh bawahan atas tujuan dan metode departemental.
Ø  Proses pengambilan keputusan hanya di tingkat atas, keputusan Relatif.
Ø  Proses penyusun tujuan dilakukan di tingkat puncak original, tanpa mendorong adanya partisipasi kelompok.
Ø  Proses kendali dipusatkan dan menekankan upaya memperhalus kesalahan.

2. Desain Orgranisasi Orgranik.
Ø  Proses kepemimpinan mencakup persepsi tentang keyakinan dan kepercayaan antara atasan dan bawahan dalam segala persoalan.
Ø  Proses motivasi berusaha menimbulkan motivasi melalui metode Partisipasi.
Ø  Proses komunikasi berlangsung sedemikian rupa sehingga informasi mengalir secara bebas keseluruh orgranisasi yaitu ke atas ke bawah dan kesamping.
Ø  Proses interaksi bersifat terbuka dan ekstensif, bai atasan ataupun bawahan dapat mempengaruhi tujuan dan metode partemental.
Ø  Proses pengambilan keputusan dilaksanakan di semua tingkatan melalui proses kelompok.
Ø  Proses penyusunan tujuan mendorong timbulnya partisipasi kelompok untuk menetapkan sasaran yang tinggi dan realistis.
Ø  Proses kendali menyeber ke seluruh orgranisasi dan menekan pemecahan masalah dan pengendalian diri.


SUMBER : http://candra-zulisman.blogspot.co.id/2013/04/dimensi-struktur-organisasi.html

Kamis, 12 November 2015

KEPEMIMPINAN DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN


KEPEMIMPINAN DALAM KONSEP PENGAMBILAN KEPUTUSAN

A.    Definisi Pengambilan Keputusan
Pada dasarnya pengambilan keputusan adalah merupakan tahap-tahap yang harus digunakan untuk membuat keputusan. Pengambilan keputusan merupakan pusat dari kegiatan organisasi Bahkan Perron dalam Salusu (1996:45), menyatakan bahwa pengambilan keputusan merupakan kunci kepemimpinan,sedangkan Gore (1959), menyebut sebagai inti kepemimpinan,Moore (1966),menyebut sebagai jantung admnistratif. Sedangkan yang dimaksud dengan pengambilan keputusan menurut Siagian (2004:39), adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap suatu masalah yang dihadapi.Pendekatan yang sistematis itu menyangkut pengetahuan tentang hakikat alternative yang dihadapi,pengumpulan fakta dan data yang relevan dengan masalah yang dihadapi,analisis masalah dengan menggunakan fakta dan data,mencari alternativ pemecahan,menganalisis setiap alternative sehingga ditemukan alternative yang paling rasional,dan penilaian dari hasil yang dicapai sebagai keputusan yang diambil.
Dari pengertian-pengertian pengambilan keputusan diatas,dapat disimpulkan bahwa pengmbilan keputusan merupakan suatu proses pemilihan alternativ terbaik dari beberapa alternative secara sistematis untuk ditindaklanjuti(digunakan)sebagai suatu cara pemecahan masalah. Jadi pengambilan keputusan rasional adalah membuat beberapa pilihan-pilihan yang konsisten dan memaksimalkan nilai dalam batasan-batasan tertentu. Teori pengambilan keputusan adalah teori-teori atau teknik-teknik atau pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam suatu proses pengambilan keputusan.Seorang pemimpin birokrasi yang ideal adalah pemimpin yang dapat menggunakan teori-teori pengambilan keputusan yang tepat dengan situasi yang tepat karena keputusan pemimpin birokrasi berpengaruh terhadap pengikutnya yang pada  gilirannya akan berpengaruh terhadap kualitas pelayanan yangdiberikan masyarakat.

B.     Definisi Keputusan
Pada dasarnya keputusan adalah hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas. Suatu keputusan merupakan jawaban yang pasti terhadap suatu pertanyaan.Keputusan harus dapat menjawab perrtanyaan tentang apa yang dibicarakan dalam hubungannya dengan perencanaan.Keputusan dapat pula berupa tindakan terhadap pelaksanaan yang menyimpang dari rencana semula.Jadi keputusan berarti pilihan,yaitu pilihan dari dua atau lebih kemungkinan altternatif. Menurut Robbins (2006:180) keputusan adalah pilihan yang dibuat dari dua atau lebih alternative.Stoner(1996),menyatakan bahwa keputusan adalah pemilihan diantara alternative-alternatif. Dari pengertian-pengertiam keputusan diatas,dapat disimpulkan bahwa keputusan merupakan suatu pemecahan masalah sebagai suatu hukum lah sebagai suatu hukum situasi yang dilakukan melalui pemilihan satu alternative dari beberapa alternative.Jadi dapat dikatakan pengambilan keputusan dilakukan karena adanya masalah,dan keputusan merupakan finalisasi dari pemilihan alternative.

C.     Jenis – Jenis Pengambilan Keputusan
Berdasarka criteria yang menyertainya, pengambilan keputusan dapat diklasifikasi atas beberapa jenis, yaitu sebagai berikut :
1. Berdasarkan programnya, pengambilan keputusan dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu :
a.      Pengambilan keputusan terprogram yaitu pengambilan keputusan yang bersifat rutinitas, berulang-ulang dan cara menanganinya telah ditentukan. Pengambilannya keputusan terprogram ini digunakan untuk menyelesaikan masalah yang terstruktur yang melalui hal-hal sebagai berikut. Yaitu (a) Prosedur, yaitu serangkaian langkah yang berhubungan dan berurutan yang harus diikuti oleh pengambilan keputusan, (b) Aturan, yaitu ketentuan yang mengatur apa yang harus dan apa yang tidak harus dilakukan oleh pengambil keputusan. (c) Kebijakan, yaitu pedoman yang menentukan parameter untuk membuat keputusan.
b.      Pengambilan keputusan tidak terprogram, yaitu pengambilan keputusan yang tidak rutinitas dan sifat unik shingga memerlukan pemecahan masalah yang khusus. Pengambilan keputusan tidak terprogram ini untuk menyelesaikan masalah yang tidak terstruktur. Contoh strategi mempromosikan untuk produk baru.
2. Berdasarkan Lingkungannnya, keputusan dapat dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu sebagai berikut :
a)      pengambilan keputusan dalam kondisi pasti, yaitu pengambilan keputusan berlangsung hal-hal sebagai berikut : (a) alternative yang harus dipilh hanya memiliki satu konsekuensi/jawaban/hasil. Ini berarti hasil keputusan dari setiap alternative tindakan tersebut ditentukan dengan pasti, (b) keputusan yang akan diambil didukung oleh informasi/data yang lengkap, sehingga dapat diramalkan secara akurat atau eksak dari setiap tindakan yang dilakukan, (c) dalam kondisi ini, pengambil keputusan secara pasti mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang. (d) teknik pemecahannya antara lain model antrian.
b)      pengambilan keputusan dalam kondisi beresiko, yaitu pengambilan keputusan dimana berlangsung hal-hal sebagai berikut: (a) alternative yang harus di pilih mengandung lebih dari satu kemungkinan hasil, (b) pengambil keputusan memiliki lebih dari satu alternative tindakan, (c) diasumsikan bahwa pengambil keputusan mengetahui peluang yang akan terjadi terhadap berbagai tindakan dan hasil, (d) resiko dapat terjadi karena pengambilan keputusan tidak dapat diketahui dengan pasti,walaupun diketahui nilai probabilitynya, (e) pada kondisi ini, keadaan lingkungan dalam keadaan tidak pasti. (f) teknik pemecahannya adalah menggunakan metode probability.
c)      Pengambilan keputusan dalam keadaan yang tidak pasti, yaitu pengambilan keputusan dimana, (a) tidak diketahui sama sekali jumlah kondisi yang mungkin terjadi, (b) pengambilan keputusan tidak dapat menentukan probability terjadinya berbagai kondisi atau hasil yang keluar. (c) yang diketahui hanyalah kemungkinan hasil dari suatu tindakan, tetapi tidak dapat diprediksi berapa besar probability setiap hasil tersebut, (d) pengambil keputusan tidak mempunyai pengetahuan atau informasi lengkap mengenai peluang terjadinya bermacam-macam keadaan tersebut, (e) hal yang akan diputuskan biasanya relative belum pernah terjadi sebelumnya, (f) teknik pemecahannya adalah menggunakan beberapa metode yaitu antara lain metode maximin atau  metode minimax.
d)     Pengambil keputusan dalam kondisi konflik, yaitu pengambilan keputusan dimana; (a) kepentingan dua atau lebih pengambil keputusan saling bertentangan dalam situasi persaingan,(b) pengambil keputusan saling bersaing dengan pengambilan keputusan lainnya yang rasional, tanggap dan bertujuan untuk memenangkan persaingan tersebut, (c) pengambil keputusan bertindak sebagai pemain dalam suatu permainan, (d) teknik pemecahannya adalah menggunakan teori permainan. Jadi dalam teori pengambilan keputusan atau pendekatan-pendekatan dapat digunakan oleh para pemimpin birokrasi dalam suatu proses pemilihan alternative sebagai pemecahan masalah.

D.    Definisi Model
Model pengambilan keputusan adalah merupakan patron yang mengandung unsure yang bersifat menyederhanakan yang dapat dicontoh. Model merupakan alat penyederhanaan dan penganalisaan situasi atau system yang kompleks. Dengan model system yang kompleks itu dapat disederhanakan tanpa menghilangkan hal-hal yang esensial dengan tujuan memudahkan pemahaman.
Model dalam pengambilan keputusan mempunyai tujuan penting karena dengan model dapat:
1. Diketahui apakah hubungan yang bersifat tunggal dari unsur-unsur itu ada relevansinya terhadap masalah yang akan diberikan solusi.
2.  Diketahui kejelasan mengenai hubungan signifikan diantara unsur-unsur itu.
3. Dirumuskan hipotesis mengenai hakikat hubungan-hubungan antara variabel.hubungan ini biasanya dinyatakan dalam bentuk statistic.
4. Diketahui pengelolaan terhadap pengambilan keputusan.

E.     Jenis-Jenis Model Pengambilan Keputusan
1)      Model kuantitatif, yaitu serangkaian asumsi yang tepat yang dinyatakan dalam serangkaian hubungan matematisyang pasti.Model ini dapat berupa persamaan atau analisis lainnya,atau merupakan instruksi bagi computer yang berupa program-program. Ciri pokok model ini ditetapkan secara lengkap melalui asumsi-asumsi dan kesimpulan berupa konsekwensi logis dari asumsi-asumsi tanpa menggunakan pertimbangan atau insting menangani proses dunia praktik atau permasalahan yang dibuat model untuk pemecahannya.
2)      Model kuantitatif, yaitu didasarkan pada asumsi-asumsi yang ketepatannya agak kurang jka dibandingkan model kuantitatif dan cirri-ciri lainnya digambarkan melalui kombinasi dari deduksi-deduksi asumsi-asumsi tersebut dan dengan pertimbangan yang lebih bersifat subjektif mengenai proses atau masalah yang pemecahannya dibuatkan model.
3)      Model probabilitas, yaitu model kemungkinan yang dapat terjadi dalam suatu peristiwa untuk dapat dijadikan kerangka acuan dalam pengambilan keputusan. Model ini bertujuan untuk mendapatkan sesuatu yang diharapkan dimasa mendatang,misalnya agar nantinya dapat menanggulangi terhadap kesulitan-kesulitan dalam masa resesi untuk dapat mmeningkatkan pendapatan masyarakat dan lain sebagainya.
4)      Model nilai harapan, yaitu dapat digunakan dalam pengambilan keputusan yang akan diambilnya nanti akan menyangkut kemungkinan-kemungkinan yang telah diperhitungkan bagi situasi dan kondisi yang akan datang.Nilai yang diharapkan(nilai harapan) dari setiap peristiwa yang terjadi merupakan kemungkinan terjadinya peristiwa itu dikalikan dengan nilai kondisional. Sedangkan nilai kondisionalnya adalah nilai dimana terjadinya peristiwa yang diharapkan masih diragukan.
5)      Model matriks, yaitu merupakan model khusus yang menyajikan kombinasi antara strategi yang digunakan dan hasil yang diharapkan. Model ini terdiri atas 2 yaitu baris dan lajur. Baris bentuknya mendatar, sedangkan lajur bentuknya menegak.
6)      Model kurva tak acuh(indiferen), yaitu model pengambilan keputusan yang selalu berkaitan dengan nilai uang. Banyak keputusan yang harus dibuat tanpa menyangkut masalah segi keuangan.Kurva acuh adalah merupakan kurva berbentuk garis dimana setiap titik yang berada pada garis kurva tersebut mempunyai tingkat kepuasan atau kemanfaatan yang sama. Misalnya penggunaan barang Adan B meskipun kombinasi jumlah masing-masing berbeda,namun apabila semuanya itu berada pada titik kurva indifiren, maka dapat dikatakan kepuasannya sama.
7)      Model verbal, yaitu model pengambilan keputusan berdasarkan analogi yang lebih bersifat kualitatif. 
8)      Model permainan operasional, yaitu yaitu model permainan peranan (war game), karena manusia dapat berperan sebagai apa saja dalam satu model, misalnya dapat berperan sebagai perancang, pemakai, tetapi dalam model operasional ini manusia dianggap sebagai elemen atau unsure. Manusia dijadikan objek yang harus mengambil keputusan.
9)      Model pohon, yaitu merupakan suatu model diagram yang cukup sederhana dan menunjukkan suatu proses merinci masalah-masalah yang di hadapinya ke dalam komponen-komponen, kemudian dibuatkan alternative-alternatif pemecahan beserta konsekuensinya masing-masing.

Referensi :
Sulaksana, P Siagian Sondang, 1999,Teori dan Praktek kepemimpinan, Rineka cipta, Jakarta